jOoLLyJoYboOm

semua bunga esok hari ada dalam benih hari ini. semua hasil esok ada dalam pikiran hari ini. ~Aristoteles~

berhentilah menjadi gelas

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.

“Kenapa kamu selalu murung, nak?, bukankah banyak hal yang Indah di dunia ini?, kemana perginya wajah bersyukurmu?”, tanya sang Guru.

“Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah, sulit bagi saya untuk tersenyum, masalah datang seperti tak ada habis-habisnya,” jawab sang murid.

Sang Guru terkekeh. “Nak, sana ambil segelas air dan dua genggam garam, bawalah kemari”, pinta sang Guru.

Biar kuperbaiki suasana hatimu itu!.

Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa segelas air dan garam sebagaimana yang diminta.

“Coba ambil segenggam garam itu dan masukkan ke segelas air itu,” kata Sang Guru.

“Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.” Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.

“Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru.

“Asin, dan perutku jadi mual!,” jawab si murid, dengan wajah yang masih meringis.

Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.

“Sekarang kau ikut aku!.”, Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat tinggal mereka. “Ambil garam yang tersisa tadi dan tebarkan ke danau itu!”.

Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.

“Sekarang, coba kau minum air danau itu!,” kata Sang Guru.

Sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, “Bagaimana rasanya?”.

“Segar, segar sekali,” kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah, lalu menjadi satu terkumpul didanau ini. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.

“Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?”

“Tidak sama sekali,” kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

“Nak!,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum.

“Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam, tidak kurang dan tidak lebih”.

Hanya segenggam garam!. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kamu alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar/ditakar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah.

Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.

Si murid terdiam, mendengarkan. “Tapi Nak, rasa ‘asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya hati yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah menjadi gelas. Jadikan kalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau.”

Kalau kamu nak, bisa merubah hatimu dari sebuah gelas menjadi sebesar danau itu, maka kamu bisa menerima semua masalah hidupmu dengan Ikhlas dan tak ada lagi rasa berat yang akan menghimpit diruang hatimu, maka kamu harus menata hatimu untuk setiap masalah hidupmu!

======oooOooo======



http://filsafat.kompasiana.com/2009/10/25/metata-hati-untuk-semua-masalah-hidup-mu/

0 komentar:

Posting Komentar